Jumat, 31 Januari 2014
Welocome To My bloger™ Disini saya akan menceritakan Sejarah Persib Bandung Persib Berdiri: 1933 Alamat: Jl. Sulanjana No. 17 Lantai 3 Indonesia Telepon: +62 (0) 22 422 1933 Faksimile: +62 (0) 22 733 3872 Laman Resmi: http://www.persib.co.id Ketua: Glenn T. Sugita (Direktur Utama) Direktur: Glenn T. Sugita (Direktur Utama) Stadion: Siliwangi Sejarah Singkat Ketika pertama kali didirikan sekitar tahun 1923, Persib dikenal dengan namaBandoeng Inlandsche Voetbal Bond [BIVB] yang merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta. Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB [Persebaya], MIVB [sekarang PPSM Magelang], MVB [PSM Madiun], VVB [Persis Solo], PSM [PSIM Yogyakarta] turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia, yakni Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung [PSIB] danNational Voetball Bond [NVB]. Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib. Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepakbola yang dimotori orang-orang Belanda, yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken [VBBO]. Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib, dan dianggap perkumpulan kelas dua. Persib memenangkan perang dingin dan menjadi perkumpulan sepakbola satu-satunya di Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNI dan Sidolig pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding, yakni Lapangan UNI dan Sidolig [kini Stadion Persib], dan Lapangan Sparta [kini Stadion Siliwangi]. Sebagai tim yang dikenal tangguh, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik junior maupun senior. Di kompetisi musim 2011/12, Persib mengambil keputusan untuk memilih bergabung di Indonesia Super League (ISL) di bawah pengelolaan PT. Liga Indonesia, ketimbang Indonesia Premier League (IPL) di bawah Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS). 16 Tahun Lalu PERSIB Mencatat Sejarah Tepat pada 30 Juli 1995, PERSIB mencatat sejarah sebagai juara pembuka Liga Indonesia, kompetisi peleburan Perserikatan dan Galatama. PERSIB pantas mencatat sejarah karena saat itu, dengan materi kekuatan lokal, justru mereka bisa membawa tropi juara ke Bandung setelah mengalahkan Petrokimia Putra 1-0 melalui gol semata wayang Sutiono Lamso. PERSIB menjadi juara sejati karena “Maung Bandung” sebelumnya telah membawa Piala Presiden ke Bandung sebagai penutup Kompetisi Perserikatan 1993-1994. 16 tahun lalu itu adalah masa penuh kenangan dan kegembiraan bagi masyarakat Jawa Barat karena tim kebanggan mereka membuat kejutan tampil sebagai kampiun. Suasana saat itu, sampai sekarang ini belum pernah terulang kembali. Malahan, pada rentan waktu 16 tahun ini, perjalanan PERSIB ternyata penuh liku. Bukan prestasi yang didapat, tetapi nyaris masuk degradasi andai saja semua pihak tidak bahu membahu menyelamatkan PERSIB agar bisa tetap di level kompetisi Divisi Utama. 16 tahun bukan waktu yang sempit. Namun, selama itu pula impian untuk mencapai seperti yang terjadi pada 30 Juli 1995 sangat sulit. Beban target selalu terus didegungkan secara nyaring ketika kompetisi akan bergulir, tetapi kenyataan semua meleset dari target prestasi. Yang jelas ada sikap frustasi dari pengurus yang menjabat dalam rentan waktu tersebut. Dengan cara apapun, terkesan sangat sulit mengembalikan kejayaan PERSIB. Akhirnya, cara instan dilakukan dengan gonta-ganti pelatih dan pemain, karena tidak memiliki agenda pembinaan pemain muda secara jelas. Jangan heran, setiap musim kompetisi, selalu muncul wajah-wajah baru di tim “Pangeran Biru” ini sehingga untuk menyatukan satu hati pemain dalam setahun terasa sangat sulit. Kini, harapan masyarakat (bobotoh) akan gelar juara bukan sebuah tuntutan yang memberatkan. PERSIB sudah pantas untuk kembali memperlihatkan prestasi meraih gelar juara. Pola pikir pembinaan harus sudah mulai bergeser. Tidak lagi mengkultuskan pemain bintang hadir dalam sebuah tim, bisa secara otomatis membawa juara. Namun, PERSIB juga perlu mempersiapkan pemain binaan sendiri secara matang. Semoga pada musim 2011-2012, masyarakat bisa kembali merasak euforia 16 tahun lalu.
Langganan:
Komentar (Atom)